INTERAKSI OBAT

INTERAKSI OBAT

 DOWNLOAD
fooddruginteractionPengaruh interaksi beberapa macam obat yang kita konsumsi secara bersamaan, atau yang lebih dikenal dengan istilah drug interaction, merupakan salah satu kesalahan pengobatan yang paling banyak dilakukan saat ini. Namun, biasanya kesalahan pengobatan karena drug interaction ini jarang terungkap, karena kekurang-pengetahuan kita, baik dokter, apoteker, apalagi pasien tentang hal ini.

Jika terjadi kegagalan pengobatan, umumnya sangat jarang dikaitkan dengan drug interaction. Padahal kemungkinan terjadinya drug interaction ini cukup besar, terutama pada pasien yang mengonsumsi lebih dari 5 macam obat pada saat yang bersamaan. Pada saat ini lebih dari 25 jenis obat baru dilempar ke pasar setiap tahunnya. Dan, tampaknya hampir mustahil jika seorang dokter atau apoteker harus menghafalkan dan menguasai masalah interaksi obat dari sekian ribu macam obat yang beredar sekarang ini. Sebab itu setiap pusat pengobatan modern, apakah itu rumah sakit, puskesmas atau praktek dokter pribadi, dan juga apotek, sebaiknya atau bahkan seharusnya memiliki akses paling tidak ke salah satu pusat data interaksi obat. Agar berbagai macam obat yang diberikan kepada pasien dapat diperhitungkan terlebih dahulu dengan seksama kemungkinan interaksinya.
Swamedikasi atau pengobatan sendiri yang kini banyak dilakukan juga sangat potensial menimbulkan masalah interaksi obat. Demikian pula jika pasien berkonsultasi dan mendapat obat dari beberapa orang dokter pada saat bersamaan. Karena itu, konsumen harus selalu memberi tahu dokter yang mengobatinya, obat apa yang sedang dikonsumsinya saat itu. Selain itu, pasien juga harus menginformasikan kepada dokter apakah pada saat itu ia juga sedang mengikuti program KB tertentu, atau sedang minum jamu atau suplemen makanan tertentu. Agar dokter pemberi resep dapat mempertimbangkan dan memilih obat yang akan diberikan kepada pasien, yang tidak ada atau paling sedikit efek negatif interaksi obatnya. Konsumen juga sebaiknya tidak malas dan tidak bosan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang berbagai obat yang dikonsumsinya, baik obat yang diresepkan dokter ataupun obat-obat OTC (over the counter, atau obat yang dapat dibeli bebas tanpa resep dokter). Informasi tentang obat dan interaksi obat ini dapat ditanyakan pada dokter yang memberikan resep, pada apoteker di apotek, atau dapat mencari sendiri di buku-buku farmasi dan kesehatan, atau di pusat-pusat data interaksi obat yang dapat dipercaya.
Pada penulisan resep sering beberapa obat diberikan secara  bersamaan, maka mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Dalam hal ini obat pertama dapat memmperkuat atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek kerja obat kedua. Karena interaksi obat pada terapi obat dapat menyebabkan kasus yang parah dan kerusakan-kerusakan pada pasien, maka interaksi obat harus lebih diperhatikan daripada sekarang dan dengan demikian dapat dikurangi jumlah dan keparahannya.
Pemakaian beberapa obat secara bersama-sama sudah lama digunakan sejak adanya terapi obat itu sendiri. Masalah interaksi  baru menjadi akut sejak baru-baru ini, karena di satu pihak selalu tersedia obat-obat yang lebih berkhasiat yang dapat menimbulkan efek-efek yang tidak diinginkan apabila obat-obat ini mempunyai pengaruh yang berlawanan dan di pihak lain baru beberapa tahun yang lalu dikembangkan cara membuktikan interaksi demikian dan juga ditemukan mekanisme-mekanisme yang menyebabkannya. Walau pun demikian, dibuktikan bahwa istilah interaksi mula-mula tidak menyatakan apakah berarti negatif atau positif, yang dapat merupakan persyaratan untuk terapi yang bermanfaat (bandingkan pemberian antidot pada keracunan; pemakaian parasimpatomimetik tak langusng pada akhir pembiusan).
Ketika dua atau lebih obat dikonsumsi secara bersamaan, akan ada kemungkinan terjadi interaksi. interaksi yang terjadi ini bisa menambah atau mengurangi efektivitas maupun efek samping obat. Bahkan bisa saja interaksi menyebabkan adanya efek samping baru, yang seharusnya gak muncul kalo obat dikonsumsi sendirian.Secara teori, peluang terjadinya interaksi obat sebanding dengan jumlah obat yang dikonsumsi. Karena itu, seseorang yang mengkonsumsi banyak obat dalam waktu bersamaan, kemungkinan memiliki risiko terjadinya interaksi cukup besar. Adanya interaksi obat juga bisa menyebabkan peningkatan biaya karena adanya kemungkinan efek samping yang harus ditangani. Selain itu interaksi obat juga bisa saja menyebabkan munculnya penyakit yang seharusnya bisa dicegah.Interaksi obat yaitu interaksi antara obat dengan substansi lain yang dapat mempengaruhi efektivitas obat, sehingga obat tidak bekerja seperti yang diharapkan. bisa saja terjadi antara interaksi obat dengan obat maupun obat dengan makanan dan zat lainnya.

Menurut jenis mekanisme kerja, interaksi obat dibedakan menjadi 2 bagian :
1.    Interaksi farmakodinamik
Interaksi ini hanya diharapkan jika zat berkhasiat yang saling mempengeruhi bekerja sinergis atau antagonis pada suatu reseptor, pada suatu organ membran atau pada suatu rangkaian pengaturan.

Jika sifat-sifat farmakodinamika yang kebanyakan dikenal baik, dari obat-obat yang diberikan secara bersamaan diperhatikan interaksi demikian dapat berguna secara terapeutik apabila menguntungkan atau dapat dicegah apabila tidak diinginkan.
Pada prinsipnya interaksi obat dapat menyebabkan dua hal penting. Yang pertama, interaksi obat dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan khasiat obat, baik melalui penghambatan penyerapannya atau dengan mengganggu metabolisme atau distribusi obat tersebut di dalam tubuh. Yang kedua, interaksi obat dapat menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan yang serius, karena meningkatnya efek samping dari obat-obat tertentu. Risiko kesehatan dari interaksi obat ini sangat bervariasi, bisa hanya sedikit menurunkan khasiat obat namun bisa pula fatal.

2. Interaksi Farmakokinetika
Interaksi obat bisa ditimbulkan oleh berbagai proses, antara lain perubahan dalam farmakokinetika obat tersebut, seperti Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME) obat. Kemungkinan lain, interaksi obat merupakan hasil dari sifat-sfat farmakodinamik obat tersebut, misal, pemberian bersamaan antara antagonis reseptor dan agonis untuk reseptor yang sama.
Interaksi Obat yang berkaitan dengan metabolisme
Banyak interaksi obat disebabkan oleh perubahan dalam metabolisme obat. Satu sistem yang terkenal dalam interaksi metabolisme adalah sistem enzim yang mengandung cytochrome P450 oxidase. Sebagai contoh, ada interaksi obat bermakna antara sipfofloksasin dan metadon. Siprofloksasin dapat menghambat cytochrome P450 3A4 sampai sebesar 65%. Karena ini merupakan enzim primer yang berperan untuk memetabolisme metadon, sipro bisa meninggikan kadar metadon secara bermakna. Sistem ini dapat dipengaruhi oleh induksi maupun inhibisi enzim, sebagaimana dibahas dalam contoh berikut.
Aada beberapa mekanisme kenapa obat yang satu berinteraksi dengan obat lainnya, hasil dari interaksi tersebut bisa menyebabkan pertambahan ato penurunan:
•    absorpsi obat oleh tubuh
•    distribusi obat dalam tubuh
•    perubahan pada tubuh yang disebabkan oleh obat (metabolisme)
•    eliminasi obat dari tubuh
Yang paling penting dari interaksi obat yaitu adanya perubahan pada absorpsi, metabolisme, atau ekskresi obat. Interaksi obat juga bisa terjadi ketika dua obat yang punya efek sama (aditif) ato efek berlawanan yang diberikan bersamaan.Lantas, mengapa kalau terjadi interaksi obat?Interaksi obat bisa meningkatkan ato mengurangi manfaat maupun efek samping dari obat yang diberikan. Ketika interaksi obat memberikan manfaat tanpa menimbulkan peningkatan efek samping, obat yang saling berinteraksi tersebut bisa dikombinasikan untuk meningkatkan penilaian penyait yang sedang diterapi. misalnya obat yang dapat mengurangi tekanan darah dengan mekanisme kerja yang berbeda bisa saja dikombinasikan karena efek penurunan tekanan darah yang dihasilkan dari adanya interaksi obat tersebut bisa saja lebih baik dibandingkan obat diberikan sendiri (tanpa kombinasi). Absorpsi beberapa obat meningkat dengan adanya makanan. Karena itu obat-obat ini diberikan bersamaan dengan makanan untuk meningkatkan konsentrasinya dalam tubuh dan efeknya. Sebaliknya, bila absorpsi obat berkurang dengan adanya makanan, maka obat diberikan saat perut kosong. faktor yang diperhatikan dalam interaksi obat yaitu apakah ada pengurangan efek yang diharapkan ataukan peningkatan efek sampingnya.. Obat yang mengurangi absorpsi ato meningkatkan metabolisme ato eliminasi obat lain dapat mengurangi efek obat lain. Hal ini bisa saja menyebabkan kegagalan terapi. Ck.. ck.. Tapi perlu diingat juga, interaksi obat yang pada teorinya itu buanyak banget, kadang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. So, ada penatalaksanaannya tersendiri.Insya Allah nanti ada bagian selanjutnya deh. Sekalian saya belajar juga. Anggap saja ini bagian pengantar ^^

Penghambatan penyerapan obat, misalnya, dapat terjadi jika Anda mengonsumsi suatu obat tertentu bersama-sama dengan norit. Norit dapat dibeli bebas dan sering dipakai untuk mengurangi kembung dan diare. Norit ini bersifat menyerap racun dan zat-zat lainnya di lambung. Sifat inilah sebenarnya yang dipakai untuk mengurangi kembung dan diare. Namun, norit menyerap zat-zat di lambung hampir tak pilih bulu sehingga obat-obat yang Anda minum dalam waktu bersamaan atau dalam rentang waktu 3-5 jam sekitar waktu makan norit juga akan ikut diserap oleh norit. Akibatnya, penyerapan obat oleh tubuh justru berkurang sehingga efek atau khasiat obat yang Anda minum tersebut akan berkurang, dan mungkin efek pengobatan tidak akan tercapai.
Penurunan atau pengurangan penyerapan obat oleh tubuh juga dapat terjadi jika Anda mengkonsumsi suatu obat tertentu bersamaan dengan obat, makanan atau suplemen makanan yang banyak mengandung kalsium, magnesium, aluminium atau zat besi. Mineral-mineral ini banyak terdapat dalam berbagai macam suplemen vitamin dan juga dalam obat maag (antasida). Kalsium, magnesium, aluminium dan zat besi dapat bereaksi dengan beberapa obat tertentu, misalnya antibiotika tetrasiklin dan turunan fluoroquinolon seperti ciprofloxacin, levofloxacin, ofloxacin, dan trovafloxacin, membentuk senyawa yang sukar diabsorpsi atau diserap oleh tubuh. Jika ini terjadi, maka tujuan pengobatan dengan antibiotika untuk membunuh kuman penyakit di dalam tubuh akan terganggu dan mungkin tidak tercapai.
Satu penelitian mengungkapkan bahwa penurunan absorpsi antibiotika karena drug interaction dengan mineral-mineral tersebut dapat mencapai 50-75 persen. Antibiotika Rifampicin dapat mengurangi efektivitas dari berbagai pil kontraseptif. Sehingga ibu-ibu yang menggunakan pil KB sebaiknya berhati-hati ketika mengonsumsi antibiotika. Bisa-bisa pil KB-nya tidak bekerja pada saat Ibu diterapi dengan rifampicin, sehingga program KB nya bisa gagal. Kombinasi rifampicin-pil KB ini juga dapat meningkatkan ririko terjadinya perdarahan. Obat-obat antihistamin atau antialergi juga sangat potensil mengadakan interaksi obat. Antihistamin sering diberikan dalam obat flu atau obat batuk. Kombinasi antihistamin dengan obat-obat penenang atau obat-obat yang bekerja menekan sistem syaraf pusat seperti luminal dan diazepam harus dihindari, sebab kombinasi ini dapat mengadakan potensiasi, sehingga dapat terjadi efek penekanan sistem syaraf pusat secara berlebihan. Antihistamin juga harus sangat hati-hati diberikan pada pasien yang sedang mendapatkan terapi antihipertensi (tekanan darah tinggi).

Contoh interaksi obat yang kini digunakan untuk memberikan manfaat adalah pemberian bersamaan karbidopa dan levodopa (tersedia sebagai karbidopa/levodopa). Levodopa adalah obat antiParkinson dan untuk menimbulkan efek harus mencapai otak dalam keadaan tidak termetabolisme. Bila diberikan sendiri, levodopa dimetabolisme di jaringan tepi di luar otak, sehingga mengurangi efektivitas obat dan malah meningkatkan risiko efek samping. Namun, karena karbidopa menghambat metabolisme levodopa di perifer, lebih banyak levodopa mencapai otak dalam bentuk tidak termetabolisme sehingga risiko efek samping lebih kecil.
Induksi enzim – obat A menginduksi tubuh untuk menghasilkan lebih banyak obat yang memetabolisme obat B. Hasilnya adalah kadar efektif dari obat B akan berkurang, sementara efektivitas obat A tidak berubah.
Inhibisi enzim – obat A menghambat produksi enzim yang memetabolisme obat B, sehingga peninggian obat B terjadi dan mungkin menimbulkan overdosis.
Ketersediaan hayati – obat A mempengaruhi penyerapan obat B.
Sayangnya, karena jumlah obat yang beredar di pasar sangat banyak, tidak mungkin bagi perusahaan obat manapun memeriksa profil kompatibilitas obatnya dengan obat lain secara lengkap. Oleh karena itu, klinisi sebaiknya memeriksa dengan seksama informasi peresepan sebelum memberikan obat, khususnya obat yang baru dikenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s