FARMASI KLINIS

Layanan farmasi klinis berkembang untuk menanggapi keprihatianan masyarakat terhadap tingginya angka morbiditas dan mortilitas yang terkait dalam penggunaan obat, cepatnya peningkatan biaya perawatan kesehatan, tingginya harapan yang terkait dalam penggunaan obat, serta ledakan pengetahuan medis dan ilmiah.
Layanan farmasi klinis merupakan praktek kefarmasian yang berorientasi kepada pasien lebih dari pada layanan berorientasi produk. Apoteker dapat berkontribusi selama proses peresepan, yaitu sebelum, selama dan sesudah resep ditulis.
Secara historis, profesi kefarmasian mengalami berbagai perubahan secara drastis dalam kurun waktu 40 tahun terakhir terjadi di abad ke 20. Perkembangan ini dibagi menjadi empat periode yaitu: Periode Tradisional (sebelum 1960), Periode Transisional (1960-1970), Periode Masakini (Farmasi Klinis), Periode Masa Depan (Pharmaceutical Care). Dalam setiap periode, dapat dibedakan konsep-konsep mendasar berkaitan dengan :
Fungsi dan tugas yang diemban, hubungan dengan profesi medis, tekanan pada pelayan penderita (patient care), sikap aktif atau pasif pada pelayanan. Beralihnya pembuatan obat dari instalasi farmasi ke industri farmasi maka tugas dan fungsi farmasi berubah. Apoteker tidak banyak lagi meracik obat karena obat yang diresepkan dokter kebanyakan obat jadi berkualitas tinggi yang disiapkan oleh pabrik farmasi. Sejalan dengan perkembangan kemajuan ilmu kedokteran, khususnya dalam bidang farmakologi dan banyaknya jenis obat yang beredar menyebabkan dokter merasa ketinggalan dalam ilmunya. Selain hal tersebut juga kemajuan dalam ilmu diagnosa, alat-alat diagnosa bantu serta penyakit baru yang muncul membingungkan para dokter (satu profesi tidak dapat lagi menangani semua pengetahuan yang berkembang dengan pesat). Dengan berkembang pesatnya obat-obat yang efektif secara terapetik dalam dekade tersebut, tapi perkembangan ini membawa masalah-masalah tersendiri berupa meningkatnya permasalahan yang berkaitan dengan obat, ESO, teratogenesis, interaksi obat-obat, obat-makanan, obat-uji laboratorium dll.
Ketidakberhasilan pengobatan dapat disebabkan oleh :
• Penulisan resep yang kurang tepat
• Pengobatan yang kurang tepat (Misalnya: Pemilihan obat, bentuk sediaan, dosis, rute, interval dosis, lama pemakaian)
• Pemberian obat yang tidak diperlukan
• Penyerahan obat yang tidak tepat
• Obat tidak tersedia saat dibutuhkan
• Kesalahan dispensing
• Perilaku pasien yang tidak mendukung
• Indiosinkrasi pasien
• Berhubungan dengan cara pengobatan yang tidak tepat
• Pelaksanaan/penggunaan obat yang tidak sesuai dengan perintah pengobatan (non compliance)
• Respon aneh individu terhadap obat
• Terjadi kesalahan atau kecelakaan
• Pamantauan yang tidak tepat
• Gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak tepat
• Gagal dalam memantau efek pengobatan pasien
Pemantauan obat merupakan salah satu tugas layanan farmasi klinis dan berhubungan dengan masalah berkaitan obat (DRP) serta dapat dikategorikan sebagai berikut :
• Pasien tidak memperoleh pengobatan yang sesuai dengan indikasinya
• Pasien tidak mendapatkan obat yang tepat
• Dosis obat subterapetik
• Pasien gagal menerima obat
• Dosis obat terlalu tinggi
• Timbul reaksi obat yang tidak dikehendaki
• Pasien mengalami masalah karena terjadi interaksi obat
• Pasien memperoleh obat yang tidak sesuai dengan indikasinya
Filosofi dan tujuan Farmasi Klinis
Hepler dan Strand (1990)
Pharmaceutical Care is ”The responsible provision of drug therapy for the purpose of achieving definite outcomes that improve a patient’s quality of life”
Cipolle, Strand dan Morley (1998)
Pharmaceutical Care is “A Practice in which the practitioner takes responsibility for a patient’s drug therapy needs, and is held accountable for this commitment”
Dasar hukum Farmasi Klinis :
SK Menkes No. 436/ Menkes/ SK/VI/1993 tentang pelayanan Rumah Sakit dan Standar Pelayan Medis, tugas Apoteker meliputi:
• Melakukan konseling
• Monitoring Efek Samping Obat (ESO)
• Pencampuran obat suntik secara aseptis
• Menganalisis efektivitas biaya
• Penentuan kadar obat dalam darah
• Penanganan obat sitostatika
• Penyiapan total parenteral nutrition
• Pemantauan terapi obat
• Pengkajian penggunaan obat
Terapi obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas mempertahankan hidup pasien, yang dilakukan dengan cara mengobati pasien, mengurangi atau meniadakan gejala sakit, menghentikan atau memperlambat proses penyakit serta mencegah penyakit atau gejalanya. Namun tidak dapat disangkal dalam pemberian obat kemungkinan terjadi hasil pengobatan tidak seperti yang diharapkan (Drug Related Problem).
Pemantauan obat merupakan salah satu tugas Farmasi Klinis dan kemungkinan masalah berkaitan dengan DRP dapat dikategorikan sebagai berikut:
• Pasien tidak memperoleh pengobatan yang sesuai dengan indikasinya
• Pasien tidak mendapatkan obat yang tepat
• Dosis obat subterapetik
• Pasien gagal menerima obat
• Dosis obat terlalu tinggi
• Timbul reaksi obat yang tidak dikehendaki
• Pasien mengalami masalah karena terjadi interaksi obat
• Pasien memperoleh obat yang tidak sesuai dengan indikasinya
Layanan farmasi klinis menghadirkan langkah penting dalam transformasi praktek kefarmasian dan orientasi produk ke praktek yang berorientasi kepada pasien. Dalam praktek ini Apoteker harus membuat keputusan tentang ketepatan pemakaian obat dan bertanggung jawab terhadap keputusan dan saran, menurut Prof. Nicholas Barber (School of Farmacy, University of London).
Sumber:http://www.isfinational.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=467

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s